Pisang Ijo

Hai, Hello, Annyeong...

Ketemu lagi kita!!

Tak terasa ya hari-hari berlalu namun masih ada kenangan yang belum di lupakan :). Entah apa yang membuatnya begitu sukar untuk di lepaskan dari ingatan.

Udah yuk jangan galau-galau lagi karena kali ini saya akan membahas salah satu makanan yang enak dan manis, sambutlah pisang ijo....


Pisang ijo adalah kudapan khas dari Makassar, Sulawesi Selatan. Hidangan ini diolah dari buah pisang raja, ambon, atau kepok yang sudah matang. Pisang dibalut dengan adonan tepung terigu bercampur santan dan air daun pandan yang memberi warna hijau dan aroma pandan. Lalu, diberi tambahan tepung beras dengan santan yang kenyal atau bubur sum-sum, disiram dengan sirop warna merah khas Makassar.

Tak sulit untuk membuat pisang ijo. Bahan-bahannya mudah diperoleh dari warung-warung sekitar rumah. Yang sulit adalah melacak jejak sejarah dan filosofis kudapan ini. Catatan utuh dan fragmen tentangnya hampir tak ada di naskah dan lontara kuno Sulawesi Selatan. Hanya nama pisang yang beberapa kali muncul dalam sumber sejarah tradisional itu.

Meski sulit memastikan kapan dan bagaimana  pisang ijo dibuat dan mulai dinikmati, orang tetap bisa menyelisik tiap bahan pembuatannya. Dalam sesuap sendok pisang ijo, ada kisah yang jalin-menjalin. Sebab, semua ada sejarahnya.

Bahan utama untuk membuat pisang ijo adalah pisang. Menurut Suyanti dan Ahmad Supriyadi dalam Pisang: Budi Daya, Pengolahan, dan Prospek Pasar, tanaman pisang telah ada sejak manusia ada. Namun, saat itu pisang masih tanaman liar yang tidak dibudidayakan. Pembudidayaan baru dilakukan saat kebudayaan pertanian menetap.

“Di kalangan masyarakat Asia Tenggara, diduga pisang telah lama dimanfaatkan, terutama tunas dan pelepahnya yang diolah sebagai sayur. Saat ini, bagian-bagian lain dari tanaman pisang pun juga telah dimanfaatkan,” tulis Suyanti dan Supriyadi.

Asia Tenggara merupakan asal tanaman pisang. Tak heran jika Indonesia merupakan salah satu negara produsen pisang dunia. Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah merupakan daerah penghasil pisang terbesar di Indonesia. “Sedangkan untuk luar Pulau Jawa, produksi terbesar berasal dari Sulawesi Selatan,” tulis Suyanti dan Supriyadi.

Pisang ijo juga biasa di sajikan dengan es yang membuat namanya menjadi es pisang ijo. Lalu, bagaimana dengan sejarah es? Kapan kah es masuk ke Makassar?

Konsumsi es di Nusantara tertuang dalam catatan musafir bernama Prancis Delmas yang mengunjungi Batavia pada 1895. Dalam Nusa Jawa Silang Budaya 2: Jaringan Asia karya sejarawan Denys Lombard, Prancis Delmas disebut mencicipi “segelas besar sidre-syampane, minuman lezat yang dibuat dengan buah-buahan negeri itu, es dan soda.”

Mengkonsumsi es menjadi lambang kemapanan bagi keluarga-keluarga di Batavia. Sebab, es berharga mahal dan didatangkan dari negeri jauh seperti Boston, Amerika Serikat. Kemudian es menjelma produk lokal setelah pabrik-pabrik pembuatan es milik orang Eropa berdiri di beberapa tempat di Pulau Jawa.

Orang-orang Tionghoa ikut mempelopori penyebaran pabrik es di Hindia Belanda. Salah satunya adalah Kwa Wan Hong dari Semarang. Sam Setyutama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia menyebut Hong mengembangkan tiga pabrik es di Semarang, Tegal, dan Pekalongan pada 1910-an.

Penyebaran es ke Makassar boleh jadi terkait dengan jejaring perdagangan antara Makassar dan Jawa yang telah terbentuk sejak abad ke-17. Jejaring itu kian intensif akhir abad ke-19 sampai awal abad ke -20 ketika pemerintah kolonial menetapkan Makassar sebagai pelabuhan bebas.

Masuknya es ke Makassar mungkin pula telah mengubah cara orang mengolah panganan berbahan pisang. Menurut Taufik, salah satu penjual es pisang ijo asli Makassar, dulu kudapan ini tidak senikmat dan sepopuler sekarang. Konsumsi es di Makassar boleh jadi telah menarik penggunaan bahan lainnya seperti pemanis berupa sirup.

Oke guys segitu aja dulu semoga ini bermanfaat ya ges yak, thank you for your time and see you again. Bye bye Annyeong...

Komentar

Postingan Populer